35 Tahun Lalu Peristiwa Malari Meletus
Hari ini, 15 Januari, 35 tahun yang lalu, terjadi peristiwa yang biasa disebut Malari. Malari sebenarnya adalah akronim dari “Malapetaka Lima Belas Januari”. Mengapa disebut malapetaka? Karena pada saat itu terjadi demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan. Malapetaka yang membuat belasan orang tewas, ratusan terluka.
Jakarta, 15 Januari 1974, adalah hari dimana kebebasan mengemukakan pendapat dibalas dengan pembungkaman yang disertai kekerasan oleh sang penguasa negeri ini waktu itu. Kerusuhan pun merembet ke pengrusakan sarana umum dan penjarahan. Buntut dari kejadian itu adalah ditangkapnya beberapa tokoh dan aktifis mahasiswa yang diduga ikut bertanggung jawab terjadap kejadian Malari. Sejumlah surat kabar juga diberangus. Pemegang jabatan strategis militer pada saat itu juga diganti.
Peristiwa Malari berawal dari apel ribuan mahasiswa dan pelajar yang berlangsung dari kampus Universitas Indonesia (UI) di Jalan Salemba, Jakarta Pusat, hingga menuju kampus Universitas Trisakti di Grogol, Jakarta Barat. Apel yang dilakukan oleh para mahasiswa itu menghasilkan keputusan untuk mendesak pemerintah pada saat itu untuk memberantas korupsi dan juga mengubah kebijakan ekonomi terutama mengenai modal asing yang didominasi Jepang, dan membubarkan lembaga tidak konstitusional seperti Asisten Pribadi Presiden. Apel itu bertepatan dengan datangnya Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta pada 14-17 Januari 1974.
Setelah apel selesai, para mahasiswa dan pelajar peserta apel tersebut membakar patung PM Jepang, Kakuei Tanaka. Lalu kemudian mereka mencoba menerobos masuk ke Istana Presiden di kawasan Monas, yang saat itu sedang ada pertemuan antara Presiden Soeharto dengan Kakue Tanaka di dalam Istana Presiden. Aparat keamanan pun merespon dengan memblokade para demonstran, dan entah siapa yang memulai, kemudian demonstrasi itu berujung pada kerusuhan.
Malari merupakan catatan hitam negeri ini. Tidak tertampungnya aspirasi masyarakat pada saat itu adalah menjadi salah satu penyebabnya. Keputusan yang diambil terhadap para demonstran pada waktu itu juga telah membuktikan kearoganan pemimpin negeri. Semoga kejadian seperti Malari, yang merupakan malapetaka buat kita semua, tidak pernah terulang lagi di negeri ini.
Artikel Yang Mungkin Berkaitan :D
Comments
10 Comments on 35 Tahun Lalu Peristiwa Malari Meletus
-
BlogSigit on
Thu, 15th Jan 2009 21:19
-
chietoQ on
Thu, 15th Jan 2009 23:22
-
Mahendra on
Fri, 16th Jan 2009 04:51
-
dikma on
Fri, 16th Jan 2009 17:56
-
genthokelir on
Fri, 16th Jan 2009 20:50
-
alifahru on
Fri, 16th Jan 2009 21:28
-
ekkei on
Tue, 20th Jan 2009 23:24
-
Intelijen Polri Ternyata Lemah | soerdjak on
Tue, 10th Feb 2009 06:23
-
Malaria ga pake “a” « obrolan cakruk on
Sat, 16th Jan 2010 07:17
-
E-ro on
Sat, 6th Feb 2010 08:32
aspirasi yang tidak tertampung….
tidak perlu terjadi lagi
apalagi nih mau deket pemilu, partai politik sudah banyak,mau berapa banyak lagi partai agar bisa menampung aspirasi…?
dilain sisi,perlu kedewasaan bagi semua orang untuk berbeda pendapat
Halloooooo Tuan Rumah, Anda dapet Award and PR dari Saya.
So, harus diterima dan dikerjakan ya ![]()
Checkout disini: My First Award n PR
Sejarah dunia telah mencatat.., Ada moment-moment sejarah dimana pada titik tertentu mahasiswa harus mengambil posisi sebagai garda terdepan dalam upaya penyelamatan bangsa. Dan ketika itu terjadi.., itu karena memang kehendak jaman.
@ BlogSigit
Banyaknya Partai Politik tidak menjamin bahwa Partai Politik dapat menampung sekaligus menyalurkan aspirasi rakyat. Apalagi ketika Partai Politik hanya sibuk berebut kekuasaan demi memperkaya sekelompok orang dan bukan bekerja untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara demi terciptanya keadilan, kedamaian dan kemakmuran.
ya itulah warna dari negeri kita mas
setuju analisa itu
memang akhirnya kita sering sekali harus menerima kenyataan pahit itu walau sangat di sayangkan dan terpaksa sekali
salam sukses selalu
hampir sama dengan kerusahan mei dunk ya…
kenapa selalu terulang ….
semoga bangsa ini makin bisa belajar dari sejarah
[...] Intelijen Polri Ternyata Lemah. Kapolri sendiri yang mengaku kalau badan intelijen Polri memang masih lemah dalam kinerjanya. Hal tersebut terkait dengan kegagalan tim dari badan intelejen Polri mendeteksi unjuk rasa anarkis yang berujung pada kematian Ketua DPRD Sumatra Utara minggu kemarin. Padahal fungsi Polri sangat penting dalam urusan sebagai penengah kericuhan yang terjadi di masyarakat. [...]
[...] Soerdjak [...]
Mga z pmerintah bsa perjuangin aspirasi rakyat…
Mga sukses selalu..
Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!


