Duka Di Tanah Palestina
Permulaan awal tahun 2009 dimulai dengan lembaran duka bagi umat Islam seluruh dunia. Pembataian oleh Zionis Israel terhadap penduduk kota Gaza di Palestina makin membabi buta.
Dimana saat kebanyakan orang di seluruh penjuru dunia larut dalam kegembiraan merayakan pergantian tahun dengan pesta yang meriah hanya untuk sekedar melupakan depresi akibat krisis ekonomi global, yang notabene disebabkan kelemahan sistem ekonomi Negara sahabat Israel, Amerika Serikat.
Bombardir bom dan peluru kendali dilancarkan dengan gencar ke wilayah Gaza-Palestina atas nama penghancuran terhadap kelompok Hamas yang di tuduh sebagai kelompok penebar teror terhadap warga Israel. Tapi bom dan peluru kendali tidak mempunyai hati dan mata. Korban sipil pun berjatuhann dari pihak yang tidak mempunyai perlengkapan untuk bertahan diri. Wanita dan anak-anak menjadi korban.
Pada saat kejadian pembataian di Mumbai, India, mereka para sekutu Israel yaitu Amerika Serikat dan Eropa serentak melakukan kecaman terhadap para pelakunya. Atas nama ‘misi perdamaian’ mereka ‘membantu’ India untuk menangkap para kelompok pelaku pembataian Mumbai dan kerabat mereka. Atas nama ‘perdamaian’ juga mereka para sekutu Israel membantu menciptakan neraka dunia di tanah Palestina. Sedangkan para pemimpin Negara-Negara di dunia hanya bisa berucap mengecam pembataian di Palestina tanpa bisa mendobrak tembok yang dibuat oleh sekutu Israel.
Duka mu wahai Palestina adalah duka bagi kami semua. Apapun penyebabnya, pembataian dengan alasan dibalik itu semua adalah karena Suku, Agama dan Ras adalah tidak benar.
Rupiah dan Dollar
Baru beberapa pekan kemaren kita sempet dikagetkan dengan ditutupnya pasar saham dan modal oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) yang disebabkan oleh penurunan drastis Index Harga Saham Gabungan (IHSG). Kemudian disusul dengan merosotnya nilai tukar (kurs) Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat yang sekarang tembus Rp. 12 ribu per Dollar AS. Harga minyak dunia yang fluktuatif karena pertumbuhan ekonomi dunia yang lambat. Ini semua merupakan imbas dari krisis ekonomi di Negara Adidaya Amerika Serikat. Negara yang baru saja menentukan Mr.Barack Obama sebagai presiden selanjutnya. Presiden yang akan dibebani tanggung jawab untuk membereskan masalah ekonomi negaranya.
Tapi klo dipikir-pikir lagi seharusnya krisis keuangan dan ekonomi yang terjadi di Negara lain tidak mempengaruhi kelangsungan ekonomi Negara kita. Pangkal masalahnya ada di mata uang Dollar Amerika Serikat. Penggunaan mata uang Dollar sebagai alat tukar bertransaksi dengan perusahaan asing maupun lokal. Bahkan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang notabene perusahaan milik Negara menggunakan Dollar US sebagai mata uang ‘resmi’ pada saat belanja untuk memenuhi kebutuhan BUMN tersebut.
Harapan saya sih semoga Indonesia dapat menentukan kebijakan ekonominya sendiri berdasarkan sumber-sumber yang sudah tersedia di Negara kita yang kaya ini. Tapi bukan berarti bertujuan memutuskan hubungan dengan Negara lain. Hanya saja setidaknya kita dapat berswasembada.
Susu Melamin Produk Amerika Serikat
Berita tentang beredarnya produk susu yang mengandung melamin muncul lagi di Indonesia. Jika sebelumnya rame tentang produk susu bermelamin yang berasal dari negeri Cina maka sekarang giliran susu produk Amerika Serikat (AS) yang diduga mengandung melamin. Hal ini muncul karena adanya temuan kandungan bahan kimia melamin oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat pada produk-produk susu formula buatan Mead Johnson, Abbot dan Nestle baru-baru ini. Ketiga merek susu formula tersebut merupakan produk susu yang banyak beredar di Indonesia. Tetapi produk susu dari ketiga merek dagang tersebut yang beredar di Indonesia tersebut belum tentu mengandung melamin lho.
Ibu Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari langsung menanggapinya dengan memerintahkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk segera memeriksa produk susu formula dari Amerika Serikat (AS) yang mengandung melamin dan beredar di Indonesia. Mudah-mudahan dengan cepatnya reaksi dari pemerintah dapat segera memberikan kejelasan kepada masyarakat. Sehingga bahaya yang ditimbulkan oleh susu melamin dapat dicegah.
Barack Obama Presiden ke-44 Amerika Serikat

Senator Barack Obama
Senator Barack Obama (47 tahun) dari Partai Demokrat akhirnya berhasil merebut kursi kepresidenan dari kubu Partai Republik. Amerika Serikat mengukir sejarah baru dengan terpilihnya Presiden pertama dari kalangan kulit hitam, dan termasuk dalam jajaran pemimpin Negara termuda.
Profil Barack Obama sendiri merupakan pribadi yang fenomenal. Dimulai dari asal usulnya yang bisa dikatakan multi-ras, dengan ayah berkulit hitam (Kenya) dan ibu berkulit putih (Amerika Serikat).
Bahkan di Indonesia sendiri hal-hal yang berbau Barack Obama menjadi sangat fenomenal. Dari rumah yang sempat disewa oleh keluarga Barack Obama yang terletak di daerah Menteng, Jakarta, sampai dengan Sekolah Dasar dimana beliau sempat mengenyam pendidikan ala Indonesia.
Rumah yang hanya sebentar saja di tumpaginya sempat di tawar dengan harga yang wah banget, Rp. 150 Millyar. Tawaran itu berasal dari para pengusaha Amerika Serikat dan Eropa.Untungnya ahli waris yang empunya rumah ( yang empunya rumah baru meninggal selasa kemaren) mengambil keputusan tetap meneruskan keinginan almarhum untuk tidak akan menjual rumah tersebut, yang sudah termasuk cagar budaya Indonesia karena keaslian bangunan khas jaman Belanda. Semoga adanya ikatan historis Mr.Barack Obama, sang presiden baru Amerika Serikat dengan Indonesia dapat membawa hubungan Indonesia - Amerika Serikat ke level yang lebih baik.
Harapan untuk Presiden baru Amerika Serikat, Barack Obama, yang akan dilantik pada Januari 2009 adalah semoga dapat segera menyelesaikan krisis ekonomi di negaranya yang berdampak luas sampai ke Negara lain. Dampaknya antara lain di Indonesia membuat nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (US$) sempat menembus Rp.12.000,- per dollar US dan juga jatuhnya indeks harga saham gabungan (IHSG).
Harapan lain agar dapat menyelesaikan krisis peperangan berkepanjangan di Irak dan Afganistan. Bisa dimulai dengan menarik pasukannya dari Negara-negara tersebut.

