Saling Tuding Akibat Kelangkaan BBM
Baru-baru ini ada kejadian yang membuat saya geli. Ini berkaitan dengan kelangkaan BBM di beberapa daerah di Indonesia dan juga isu penurunan harga premium dan solar. Sebelumnya berkaitan dengan hal ini para pengusaha SPBU dituduh melakukan konspirasi untuk menghentikan atau mengurangi pesanan BBM dari Pertamina karena adanya isu penurunan harga premium dan solar dalam waktu dekat ini. Tetapi kemudia mereka menyangkalnya dengan beralasan bahwa kelangkaan BBM bersubsidi premium dan solar baru-baru ini bukan karena mereka mengurangi stok pesanan dari Pertamina. Tetapi karena pendistribusian yang tidak lancar dari Pertamina sendiri.
Ya, saling tuding dan saling lempar tanggung jawab pun dimulai. Pihak Pertamina melalui pejabat yang berwenangnya pun langsung berdalih keterlambatan pendistribusian BBM dibeberapa daerah terjadi salah satunya karena adanya libur panjang pergantian tahun 2008-2009 kemarin. Sehingga banyak pegawai Pertamina yang libur dengan sekalian mengambil cuti massal. Pertamina juga berdalih bahwa saat ini mereka sedang melakukan perombakan dalam sistem pendistribusian BBM dengan sistem baru.
Pernyataan pejabat Pertamina ini langsung ditanggapi oleh om SBY dengan nada kecewa. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau yang biasa dipanggil SBY mengeluarkan pernyataan yang mengisyaratkan kekecewaaan sekaligus teguran terhadap kinerja Pertamina. “Salah. Tidak ada hari libur kalau mau melayani masyarakat. Bukan berarti harus ngantor. Tak ada excuse seperti itu,” Presiden SBY menegaskan. Beberapa saat kemudian pejabat Pertamina menanggapi imbauan Presiden itu dengan kesan cuek. Pejabat Pertamina ini bilang kalo dia siap diganti dan yang berhak memutuskan itu adalah para pemegang saham. Nah lho, bingung kan? Kok malah jadi ribut sih. Terus BBM nya jadi turun tidak nih?
Kok Premiumnya Habis Sih?
Entah kenapa hari ini di beberapa SPBU penjual BBM (Bahan Bakar Minyak) jenis premium banyak yang kosong. Padahal biasanya di Jakarta jarang sekali terjadi kehabisan stok bensin premium. Di SPBU deket rumah yang biasanya tidak pernah kehabisan stok premiumnya juga kehabisan. Di pintu masuk SPBU tertulis “Bensin Premium Habis”. Waduh, kok premiumnya bisa habis sih? Ada yang borong kah?
Tadinya saya pikir di SPBU dekat rumah saya doang yang habis premiumnya, tapi ternyata saya harus mencari hingga 3 SPBU sampai akhirnya dapet bensin premium. Itupun stoknya tinggal dikit. Untung masih kebagian, soalnya bensin mobil udah tipis banget. Alhamdulillah..
Denger-denger sih katanya harga BBM jenis premium mau turun lagi harganya. Karena saat ini para pengusaha SPBU enggan membeli premium dari pertamina hingga penurunan harga premium terjadi. Soalnya mereka bakalan rugi kalo mereka membeli dengan harga lama tetapi menjual ke konsumen dengan harga baru yang telah turun itu. Tapi masa sih om SBY mo nurunin lagi. Jika berdasarkan harga minyak dunia memang sudah seharusnya harga bensin di Indonesia dibawah lima ribu rupiah alias goceng. Kita tunggu aja deh, kali aja memang beneran turun lagi tuh harga bensinnya.
Harga Premium Turun Lagi Gopek
Wah akhirnya pemerintahan pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan juga untuk menurunkan harga BBM jenis solar. Setelah sebelumnya melakukan rapat terbatas di Istana Kepresidenan, kemarin Minggu ( 14 Des 08). Solar yang tadinya dipatok di harga Rp.5.500,- per liternya kini menjadi Rp 4.800 per liter atau turun 700 rupiah. Harga baru tersebut telah efektif tadi malam mulai pukul 24.00 waktu Indonesia bagian barat.
Selain solar, harga BBM jenis premium pun kembali diturunkan gopek (Rp 500,-) menjadi Rp 5.000 per liter. Padahal sebelumnya banyak yang memprediksi pemerintah akan memilih antara premium atau solar yang akan diturunkan harganya. Ternyata harga Premium pun dapat jatah porsi alokasi APBN. Penurunan harga bensin ini adalah yang kedua pada bulan ini, setelah pada 1 Desember 2008 kemarin premium turun gopek. Baru pertama kalinya terjadi nih di negeri ini penurunan harga BBM sampai dua kali dalam sebulan.
Terlepas dari isu politik yang membayangi keputusan SBY untuk menurunkan harga BBM jenis solar dan premium. Memang sudah sepantasnya harga BBM diturunkan karena harga minyak mentah dunia sekarang yang memang sudah jauh dibawah harga minyak dunia pada saat harga premium di Indonesia Rp.4.500,-.
Pilih Premium Atau Solar
Sehubungan dengan keputusan pemerintah Indonesia menurunkan harga BBM jenis premium per tanggal 1 Desember 2008, saya ingin memberikan opini lanjutan. Yang sebelumnya saya telah mengulas opini pribadi saya tentang penurunan harga premium yang cuman gopek, alias lima ratus rupiah.
Penurunan harga premium saat ini tidak diikuti oleh penurunan harga minyak tanah dan solar. Padahal menurut saya menurunkan harga solar dan minyak tanah lebih tepat dibandingkan premium. Bukan berarti menurunkan harga premium juga salah lho…
Tapi solar dan minyak tanah adalah bahan bakar yang penggunaannya lebih banyak digunakan oleh kalangan kelas bawah. Sedangkan premium saat ini mayoritas digunakan oleh kelas menengah dan atas. Apalagi banyak mobil bertenaga diatas 2000 cc yang seharusnya menggunakan BBM tanpa subsidi, yaitu pertamax, malah menggunakan premium.
Kebanyakan angkutan umum massal dan angkutan barang menggunakan BBM jenis solar. Ketika harga solar turun maka otomatis biaya yang mereka tanggung juga turun. Jadi akan terlihat jelas dampaknya bagi masyarakat jika harga solar juga turun. Tapi ini hanya sekedar opini dan analisa pribadi saya. Saya ga bisa jamin jika harga solar nanti turun maka harga barang-barang kebutuhan pokok akan turun juga.
Harga Premium Turun Gopek
Waduh ga nyangka juga pemerintah Indonesia bakalan berani nurunin harga BBM (bahan bakar minyak) bersubsidi, yaitu premium. Keputusan pemerintah Indonesia menurunkan harga bensin premium yang tadinya Rp.6.000,- menjadi Rp.5.500,- alias turun gopek (Rp.500,-) baru akan mulai berlaku bulan depan, tanggal 1 Desember 2008. Penurunan harga premium ini tidak diikuti oleh penurunan harga minyak tanah dan solar.
Dengan harga minyak dunia saat ini yang sedang mengamali fluktuasi seharusnya pemerintah jangan terlalu cepat mengambil keputusan penurunan harga premium. Harga minyak dunia yang sekarang lagi turun bisa dengan cepat naik kembali. Entah apa yang akan dilakukan pemerintah Indonesia jika ternyata bulan depan harga minyak dunia kembali naik, membatalkan penurunan harga BBM-premium yang hanya gopek itu?!
Padahal jika diingat dulu pada saat pemerintah menaikkan harga premium yang sebelumnya Rp.4.500,- perliter waktu itu harga minyak dunia berada pada level 90 dollar US sampai dengan 105 dollar US perbarel. Dan pada saat harga perbarel minyak dunia mencapai 119 dollar US pemerintah menaikkan harga premium menjadi Rp.6.000,- . Naik cengGo alias Rp.1.500. Tapi sekarang pada saat harga perbarel minyak dunia bulan November ini 58 dollar US, jauh dibawah level harga minyak dunia pada saat harga premium di negeri ini Rp.4.500,- perliter, pemerintah hanya menurunkan gopek alias 500 rupiah doang.
Belum lagi dampak yang akan terjadi dengan adanya naik turun harga premium. Lebih akan terasa dampak harga premium yang naik dibandingkan dengan dampak turunnya harga BBM. Harusnya pemerintah mengalihkan saja uang yang dialokasikan untuk subsidi BBM (premium) tersebut ke tempat yang rakyat kalangan bawah lebih membutuhkannya.
Harga BBM Turun ..??
Setelah mengalami fluktuasi-turun naik yang bisa dibilang drastic, harga minyak dunia di akhir bulan oktober ini mengalami penurunan lagi. Menurunnya harga minyak dunia ini dimulai sejak beberapa pekan terakhir ini, setelah sebelumnya di awal-pertengahan bulan Oktober harga minyak dunia sempat mengalamin kenaikan.
Fakta turunnya harga minyak dunia saat ini mengundang usulan umum untuk menurunkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak-premium) bersubsidi di Indonesia yang saat ini berada di Rp.6000,- per liter.
Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam menurunkan harga BBM, selain turunnya harga minyak dunia tentunya. Diantaranya adalah harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang harus dalam kisaran tertentu (ekonomis), serta masih adakah alokasi subsidi di APBN perubahan 2008 dan juga nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar AS (Amerika Serikat).
Menurunkan harga BBM di negeri ini bukan perkara kecil. Walaupun negara tetangga kita, Malaysia sudah duluan menurunkan harga BBM bersubsidinya. Jika memang pemerintah Indonesia memutuskan menurunkan harga BBM, turunnya juga tidak akan signifikan (bakalan kecil bgt deh..), terlebih jika dibandingkan dengan harga pada saat menaikkannya. Dampaknya pun tidak aka berarti banyak, dibandingkan dengan dampak pada saat kenaikan BBM. Kita pernah mengalami penurunan BBM beberapa tahun silam. Fakta tentang dampak dari turunnya harga BBM di negeri ini sudah terbukti seperti ulasan diatas.


