Lapindo Akhirnya Menyerah
Tiga tahun hampir berlalu. Nasib ribuan korban lumpur Lapindo tidak berubah sama sekali. Nasib mereka terus terkatung-katung. Berbagai upaya sudah dilakukan sejumlah pihak untuk menggugat keadilan terhadap para korban lumpur di pengadilan. Tapi semua langkah itu kandas. Penetapan status tersangka pada sejumlah orang yang dinilai bertanggung jawab juga tidak berujung. Presiden SBY pun sudah turun tangan menyelesaikan proses ganti rugi termasuk menegur pemilik Lapindo Brantas, Nirwan Bakrie. Tetapi tampaknya teguran Presiden juga belum dapat menyelesaikan masalah.
Dan kini dengan alasan kesulitan keuangan akibat krisis ekonomi global PT Minarak Lapindo akhirnya menyerah. Pihak Lapindo menyatakan belum bisa menepati janji membayar sisa ganti rugi 80 persen sesuai kesepakatan kepada korban Lumpur di Sidoarjo. Mereka hanya menyanggupi untuk membayar Rp 15 juta per berkas. Yang berarti janji pihak Lapindo dihadapan Presiden dan Wapres beberapa waktu lalu silam hanyalah isapan jempol semata. Dan kini mereka berharap pada pemerintah untuk mau mengambil alih tanggung jawab pembayaran sisa ganti rugi tersebut. Tapi pemerintah dengan tegas mengatakan tak ada lagi dana talangan untuk Lapindo.
Sikap saling lempar antara pemerintah dan pihak Lapindo ini akan semakin membuat nasib para korban Lumpur Lapindo tidak jelas. Para korban lumpur Lapindo harus menanggung akibat yang bukan karena kesalahan mereka. Kesalahan yang jelas-jelas disebabkan keteledoran. Kesalahan yang sebenarnya bukan karena bencana alam.
Ponari dan Kegagalan Pemerintah
Pasti sudah pada tahu dong berita tentang seorang anak kecil kelas 3 SD yang diklaim banyak orang sebagai dukun yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ponari yang saat ini menyandang titel dukun cilik memang menjadi fenomena tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dengan teknik pengobatan yang nyeleneh, yaitu dengan hanya mencelupkan batu ‘khusus’ oleh sang dukun cilik Ponari ke air minum yang telah disiapkan oleh calon pasiennya dan kemudian air itu dimaksudkan untuk diminum oleh si pesakit agar dapat sembuh dari berbagai penyakit. Ribuan orang rela mengantri dengan suasana outdoor yang semrawut berdesak-desakan dengan tujuan mendapatkan pelayanan kesehatan murah dan dipercaya manjur tersebut.

Dukun Cilik Ponari sedang digendong sambil mencelupkan batu ke air pasien
Fenomena dukun cilik Ponari menjadi suatu indikasi kegagalan pemerintah Indonesia dalam menyediakan pelayanan kesehatan yang murah kepada rakyatnya. Terlepas dari kepercayaan mereka yang berobat kepada dukun cilik Ponari tersebut, jika dilihat dari sebagian besar calon pasien dukun cilik Ponari adalah berasal dari kalangan tidak mampu. Mereka yang jumlahnya ribuan dan mempunyai keterbatasan ekonomi tersebut sebagian telah menyerah terhadap tindakan medis kedokteran yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Sedangkan untuk berobat ke dukun cilik Ponari, si pasien hanya ditarik sumbangan sekedarnya dan iuran parkir yang terbilang relatif murah. Ini sudah menjadi bukti kuat kalau pemerintah Indonesia telah gagal memberikan layanan kesehatan yang bermutu bagus dan murah bagi rakyat miskin.
[Artikel diatas adalah salah satu opini dan tanggapan pribadi saya terhadap keadaan negeri ini. Tanpa ada maksud memojokkan atau memihak salah satu pihak. Saya sendiri berharap negeri ini akan dapat menjadi lebih baik dalam hal melayani rakyatnya.]
Visi dan Misi yang Unik Dari Prabowo
Barusan nonton JakTV acara ‘Obrolan Politik’ dengan bintang tamunya calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Acara yang dipandu oleh Irma Hutabarat tadi membahas tentang visi dan misi mantan Danjen Kopassus tersebut. Salah satu visinya yang membuat saya tertarik adalah program-program ekonominya yang terlihat memihak kepentingan rakyat kecil. Yaitu larangan kredit bagi pengusaha besar untuk meminjam uang dari bank-bank nasional Indonesia. Menurut Prabowo kredit nantinya diperuntukkan bagi rakyat kecil. Menurut saya idenya Prabowo ini agak nyeleneh, unik dan ekstrem juga.
Satu lagi yang membuat saya kaget, ternyata Prabowo juga menentang pinjaman-pinjaman dari luar negeri. Terutama dari pinjaman dari IMF dan sejenisnya. Dia bilang kalau IMF adalah alat politik Amerika Serikat untuk menekan Negara-negara yang meminjam dana IMF. Untuk yang satu itu saya pribadi setuju banget. Jangan sampe deh IMF masuk lagi ke Indonesia.
[Artikel diatas adalah salah satu opini dan tanggapan pribadi saya terhadap dunia perpolitikan negeri yang saat ini sedang diambang pemilu. Tanpa ada maksud memojokan atau memihak salah satu politikus maupun kubu politik. Saya sendiri berharap negeri ini akan bersih dari kebudayaan politik kotor yang memang sudah mengakar jauh]
Akhirnya Indonesia Ekspor Beras Lagi
Akhirnya Indonesia kembali akan mengekspor beras. Sudah lama sekali terakhir kali Negara kita melakukan ekspor beras. Soalnya kemarin-kemarin yang ada kita malah impor beras. Beras murah dari pesaing kita datangnya dari Thailand. Thailang memang terkenal sebagai Negara pengekspor beras terbesar di Asia. Indonesia yang luas wilayahnya lebih luas dari Thailand sudah sepantasnya mengambil peran sebagai Negara lumbung padinya asia.
Saya dengar ekspor beras ini akan di koordinir oleh Badan Urusan Logistik (Bulog). Nantinya Bulog akann menunjuk mitra dari perusahaan-perusahaan untuk membantu menjualkan beras Indonesia ke luar negeri. Agak meragukan juga nih kalau dipegang sama Bulog. Soalnya citra institusi buatan jaman orde baru ini terkenal sebagai lumbungnya koruptor Indonesia. Seingat saya dulu para pejabat orde baru menyebut Bulog dengan istilah ‘lahan basah’ alias banyak proyek yang bisa diduitin.
Apalagi pemerintah kali ini akan berencana mengekspor 100 ribu ton beras kualiatas super non- organik ke sejumlah Negara seperti, Jepang, Singapura, Malaysia dan Korea. Pasti akan banyak sekali uang rakyat yang diputar disana, terutama uang petani-petani Indonesia. Semoga saja Bulog sekarang bukan Bulog pada jaman orde baru, tidak ada lagi korupsi disana. Sehingga perekonomian Indonesia dapat sedikit terbantu dari penghasilan ekspor beras kita.
35 Tahun Lalu Peristiwa Malari Meletus
Hari ini, 15 Januari, 35 tahun yang lalu, terjadi peristiwa yang biasa disebut Malari. Malari sebenarnya adalah akronim dari “Malapetaka Lima Belas Januari”. Mengapa disebut malapetaka? Karena pada saat itu terjadi demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan. Malapetaka yang membuat belasan orang tewas, ratusan terluka.
Jakarta, 15 Januari 1974, adalah hari dimana kebebasan mengemukakan pendapat dibalas dengan pembungkaman yang disertai kekerasan oleh sang penguasa negeri ini waktu itu. Kerusuhan pun merembet ke pengrusakan sarana umum dan penjarahan. Buntut dari kejadian itu adalah ditangkapnya beberapa tokoh dan aktifis mahasiswa yang diduga ikut bertanggung jawab terjadap kejadian Malari. Sejumlah surat kabar juga diberangus. Pemegang jabatan strategis militer pada saat itu juga diganti.
Peristiwa Malari berawal dari apel ribuan mahasiswa dan pelajar yang berlangsung dari kampus Universitas Indonesia (UI) di Jalan Salemba, Jakarta Pusat, hingga menuju kampus Universitas Trisakti di Grogol, Jakarta Barat. Apel yang dilakukan oleh para mahasiswa itu menghasilkan keputusan untuk mendesak pemerintah pada saat itu untuk memberantas korupsi dan juga mengubah kebijakan ekonomi terutama mengenai modal asing yang didominasi Jepang, dan membubarkan lembaga tidak konstitusional seperti Asisten Pribadi Presiden. Apel itu bertepatan dengan datangnya Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta pada 14-17 Januari 1974.
Setelah apel selesai, para mahasiswa dan pelajar peserta apel tersebut membakar patung PM Jepang, Kakuei Tanaka. Lalu kemudian mereka mencoba menerobos masuk ke Istana Presiden di kawasan Monas, yang saat itu sedang ada pertemuan antara Presiden Soeharto dengan Kakue Tanaka di dalam Istana Presiden. Aparat keamanan pun merespon dengan memblokade para demonstran, dan entah siapa yang memulai, kemudian demonstrasi itu berujung pada kerusuhan.
Malari merupakan catatan hitam negeri ini. Tidak tertampungnya aspirasi masyarakat pada saat itu adalah menjadi salah satu penyebabnya. Keputusan yang diambil terhadap para demonstran pada waktu itu juga telah membuktikan kearoganan pemimpin negeri. Semoga kejadian seperti Malari, yang merupakan malapetaka buat kita semua, tidak pernah terulang lagi di negeri ini.
Duka Di Tanah Palestina
Permulaan awal tahun 2009 dimulai dengan lembaran duka bagi umat Islam seluruh dunia. Pembataian oleh Zionis Israel terhadap penduduk kota Gaza di Palestina makin membabi buta.
Dimana saat kebanyakan orang di seluruh penjuru dunia larut dalam kegembiraan merayakan pergantian tahun dengan pesta yang meriah hanya untuk sekedar melupakan depresi akibat krisis ekonomi global, yang notabene disebabkan kelemahan sistem ekonomi Negara sahabat Israel, Amerika Serikat.
Bombardir bom dan peluru kendali dilancarkan dengan gencar ke wilayah Gaza-Palestina atas nama penghancuran terhadap kelompok Hamas yang di tuduh sebagai kelompok penebar teror terhadap warga Israel. Tapi bom dan peluru kendali tidak mempunyai hati dan mata. Korban sipil pun berjatuhann dari pihak yang tidak mempunyai perlengkapan untuk bertahan diri. Wanita dan anak-anak menjadi korban.
Pada saat kejadian pembataian di Mumbai, India, mereka para sekutu Israel yaitu Amerika Serikat dan Eropa serentak melakukan kecaman terhadap para pelakunya. Atas nama ‘misi perdamaian’ mereka ‘membantu’ India untuk menangkap para kelompok pelaku pembataian Mumbai dan kerabat mereka. Atas nama ‘perdamaian’ juga mereka para sekutu Israel membantu menciptakan neraka dunia di tanah Palestina. Sedangkan para pemimpin Negara-Negara di dunia hanya bisa berucap mengecam pembataian di Palestina tanpa bisa mendobrak tembok yang dibuat oleh sekutu Israel.
Duka mu wahai Palestina adalah duka bagi kami semua. Apapun penyebabnya, pembataian dengan alasan dibalik itu semua adalah karena Suku, Agama dan Ras adalah tidak benar.
Rupiah dan Dollar
Baru beberapa pekan kemaren kita sempet dikagetkan dengan ditutupnya pasar saham dan modal oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) yang disebabkan oleh penurunan drastis Index Harga Saham Gabungan (IHSG). Kemudian disusul dengan merosotnya nilai tukar (kurs) Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat yang sekarang tembus Rp. 12 ribu per Dollar AS. Harga minyak dunia yang fluktuatif karena pertumbuhan ekonomi dunia yang lambat. Ini semua merupakan imbas dari krisis ekonomi di Negara Adidaya Amerika Serikat. Negara yang baru saja menentukan Mr.Barack Obama sebagai presiden selanjutnya. Presiden yang akan dibebani tanggung jawab untuk membereskan masalah ekonomi negaranya.
Tapi klo dipikir-pikir lagi seharusnya krisis keuangan dan ekonomi yang terjadi di Negara lain tidak mempengaruhi kelangsungan ekonomi Negara kita. Pangkal masalahnya ada di mata uang Dollar Amerika Serikat. Penggunaan mata uang Dollar sebagai alat tukar bertransaksi dengan perusahaan asing maupun lokal. Bahkan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang notabene perusahaan milik Negara menggunakan Dollar US sebagai mata uang ‘resmi’ pada saat belanja untuk memenuhi kebutuhan BUMN tersebut.
Harapan saya sih semoga Indonesia dapat menentukan kebijakan ekonominya sendiri berdasarkan sumber-sumber yang sudah tersedia di Negara kita yang kaya ini. Tapi bukan berarti bertujuan memutuskan hubungan dengan Negara lain. Hanya saja setidaknya kita dapat berswasembada.
IMF Masuk Lagi ke Indonesia
Waduh, liat judulnya aja udah nyeremin banget. Gimana tidak menakutkan jika benar IMF (International Monetary Fund) akan masuk kembali ikut campur tangan dalam penyelesaian krisis ekonomi di Indonesia maka akan bisa dipastikan Negara ini akan lebih terpuruk lagi. Kenapa tiba-tiba nama IMF (International Monetary Fund) muncul lagi? Ini karena adanya beberapa hasil ‘obrolan’ tingkat tinggi para empunya negeri di KTT G-20, yang merekomendasikan IMF sebagai ‘dewa penolong’ bagi Negara-negara yang terkena dampak krisis ekonomi global.
Sudah terbukti sepak terjang IMF (International Monetary Fund) di dunia internasional membawa malapetaka untuk Negara yang di ‘tolong’nya. Rusia yang kala itu baru saja terbentuk setelah bubarnya Uni Soviet didatangi IMF dengan iming-iming akan memberesi masalah ekonomi Negara tersebut yang saat itu sedang mangalami krisis. Tapi fakta sejarah membuktikan bahwa IMF malah membuat Rusia lebih terpuruk lebih dalam lagi. Kejadian serupa juga dialami Venezeula. Di negeri yang banyak menghasilkan wanita cantiknya
untuk diikut sertakan dalam ajang kompetisi ‘wanita cantik sedunia’
itu juga mengalami nasib yang sama dengan Rusia.
Penghapusan subsidi, perdagangan bebas dan privatisasi BUMN (Badan Usaha Milik Negara) adalah ‘metode’ atau ‘jurus’ yang biasa dipaksakan untuk diterapkan di Negara yang memakai jasa IMF (International Monetary Fund). Mereka biasanya meyebutnya dengan restrukturisasi ekonomi ala IMF. Indonesia juga pernah ikut mengalami masa-masa suram ketika IMF ikut campur tangan sesaat setelah krisis ekonomi-keuangan Asia datang menerjang.
Yang didapat oleh Indonesia pun tidak jauh berbeda dengan Negara-negara lain yang telah disinggahi IMF (International Monetary Fund) lebih dulu. Harga barang tinggi (termasuk BBM ga ya?!), daya beli masyarakat rendah dan bank tidak mau mengucurkan kreditnya, sementara pasar bebas malah membuat pasar Indonesia terpuruk. Cara, metode, resep, jurus atau apapun namanya yang telah diterapkan di negeri ini terbukti gagal, dan berujung pada jatuhnya Rezim Orde Baru pimpinan Soeharto.
Semoga pemerintah Indonesia sekarang dapat lebih bijak lagi dalam menyikapi krisis ekonomi global saat ini. Jangan terpaku pada keputusan KTT G-20 yang mungkin tidak baik diterapkan di Indonesia. Dan sangat mungkin jika hasil KTT G-20 tersebut hanya akan membuat untung beberapa Negara anggotanya. Intinya sih jangan sampe deh kecebur kolam dua kali berturut-turut.
[ permisi-permisi; gambar diambil dari http://www.celsias.com/article/imf-lies/ ]
Rupiah Tembus Rp.12 ribu per Dollar AS
Rupiah Tembus Rp.12 ribu per Dollar AS pada selasa (28 Oktober 2008) kemaren. Setelah hal yang dikhawatirkan itu akhirnya terjadi, makin melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar AS (Amerika Serikat) akibat dampak krisis ekonomi global.
Sepertinya pemerintah dan masyarakat harus lebih tanggap dalam mengantisipasi krisis ekonomi global ini. Makin melemah nya kurs rupiah terhadap dollar AS bisa membuat panik masyarakat, setelah sebelumnya masyarakat sedikit panik karena BEI (Bursa Efek Indonesia) sempat menutup (suspend) pasar modal Indonesia.
Padahal kalo dicermati lebih jauh, melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar AS saat ini dikarenakan penarikan dana oleh manajer investasi (fund manajer) asing di sejumlah negara Asia termasuk Indonesia. Itu dilakukan mereka untuk menguatkan likuiditas di negara asal mereka, yang kebanyakan berasal dari Eropa dan Amerika Serikat.
Jadi kita sebagai masyarakat Indonesia tidak perlu panik akan hal ini. Melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar AS hanya akan bersifat sementara, karena pemerintah sudah pasti akan mengantisipasi hal ini.
[Pada saat tulisan ini di published rupiah berada di kisaran Rp.11 ribu per dollar AS]




