PDIP Sudah Tidak Soekarnois Lagi?
Pasti sudah pada tahu dong dengan yang namanya Permadi. Orang yang dulu aktif sebagai aktivis PDIP itu dan selalu berbaju hitam. Atau mungkin lebih banyak yang mengenal Permadi sebagai ‘orang pintar’ ? Yang pasti Permadi adalah anggota DPR yang terhormat, eh mantan anggota DPR lebih pasnya. Karena sekarang dia telah mengundurkan diri dari keanggotaan dewan terhormat itu. Tapi berita Permadi mengundurkan diri dari DPR hanyalah berita biasa. Yang agak luar biasa adalah berita kepindahan Permadi dari partai politik pimpinan Megawati, PDIP ke partai politik pimpinan Prabowo Subianto, yaitu Gerindra. Terlepas dari manuver politiknya Permadi, yang membuat kaget saya adalah alasan Permadi kenapa sampai pindah partai tersebut. Ternyata alasan dia karena teman-temannya di PDIP sudah tidak berhaluan Soekarnois lagi. Permadi lebih memilih Prabowo yang menurut dia lebih Soekarnois. Yang bisa diambil kesimpulan oleh saya, bahwa PDIP sudah tidak Soekarnois lagi. Lah terus apa dong kebanggaan PDIP sekarang jika sudah tidak pake tag-nya Soekarno. Setau saya kabanggan simpatisan PDIP hanya pada Ketua Umumnya itu, yang dengan bangga mengatasnamakan dirinya sebagai penerus idealisme Soekarno.
[Artikel diatas adalah salah satu opini dan tanggapan pribadi saya terhadap dunia perpolitikan negeri yang saat ini sedang diambang pemilu. Saya sendiri berharap negeri ini akan bersih dari kebudayaan politik kotor yang memang sudah mengakar jauh]
Perang Kampanye PDIP Versus Partai Demokrat
Akhir-akhir ini di media masa lagi ramai saling lempar kritikan antara Megawati yang mewakili PDIP dengan SBY yang mewakili Partai Demokrat. Diawali dengan diumbarnya kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM jenis premium dan solar dalam iklan kampanye Partai Demokrat, partai pendukung utama pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam kampanye iklan politiknya tersebut, Partai Demokrat mengklaim bahwa penurunan harga BBM yang sudah tiga kali dilakukan adalah hasil kinerja pemerintah pimpinan SBY. PDIP sendiri langsung menanggapinya melalui pidato Ketua Umumnya, Megawati Soekarnoputri yang saat ini belum mempunyai pendamping, mengisyaratkan bahwa pemerintahan SBY telah mempermainkan rakyat selayaknya bermain yoyo. Serangan PDIP terus berlanjut lewat kampanye iklan-iklan yang terus mencela kebijakan-kebijakan pemerintahan SBY yang telah dianggap salah. Sedangkan jawaban atas kritikan tersebut, presiden Susilo Bambang Yudhoyono membalasnya dengan pantun “…Mencari-cari kesalahan bukanlah sifat yang bijak,”. Perang kampanye PDIP versus Partai Demokrat tidak berhenti disitu saja. Iklan-iklan politik dari Partai Demokrat juga terus berkumandang di media-media masa negeri ini.
Saya sendiri agak risih dengan perang kampanye antara kedua partai tersebut. Ini baru dua partai yang saling serang melalui iklan, bagaimana jika sebagian besar peserta pemilu ikut-ikutan meramaikan iklan kampanye mereka dengan saling serang. Yang akan terjadi adalah media-media masa Indonesia isinya hanya akan ada hujatan, hinaan dan celaan. Walaupun itu semua dilakukan secara tersirat. Tidak sadarkah mereka yang saling hujat itu, bahwa mereka hanya akan mencontohkan pelajaran yang tidak baik bagi para calon penerus negeri ini. Dan yang lebih aneh lagi, ada partai yang pernah berkuasa dulu juga ikut mencela kinerja pemerintahan sekarang. Padahal waktu mereka berkuasa dulu juga tidak bisa dibilang berhasil melaksanakan pemerintahan dengan baik. Korupsi dan kemiskinan masih merajalela. Semoga para pemilih sekarang lebih dapat berpikir dan mawas diri dalam memilih calon pemimpin negeri di pilpres nanti.
Megawati Belum Punya Pendamping Juga
Tadinya saya penasaran banget dengan hasil Rapat Kerja Nasional (rakernas) IV Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang berakhir kemarin di hotel The Sunan, Solo, Jawa Tengah. saya dan teman-teman sebenarnya sudah menebak-nebak siapa ya diantara para kandidat cawapres yang bakalan jadi pendamping Megawati di pemilihan presiden (pilpres) 2009 mendatang. Bahkan sebagian dari teman-teman langsung tanggap menyikapi event tersebut dengan menggelar taruhan permainan tebak-tebakan, nama siapa yang bakalan muncul nanti di akhir rakernas sebagai jodohnya Megawati. Tapi ternyata akhir dari event tersebut tidak memuaskan, tidak ada satu pun nama yang muncul sebagai cawapres pendamping tante Mega. Sepertinya tarik ulur, lobi-lobi, tawar-menawar antara para kandidat dengan PDIP belum mencapai titik temu. Katanya sih nama tersebut akan diumumkan pada rakernas selanjutnya. Kita tunggu aja deh.

