Perang Kampanye PDIP Versus Partai Demokrat
Akhir-akhir ini di media masa lagi ramai saling lempar kritikan antara Megawati yang mewakili PDIP dengan SBY yang mewakili Partai Demokrat. Diawali dengan diumbarnya kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM jenis premium dan solar dalam iklan kampanye Partai Demokrat, partai pendukung utama pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam kampanye iklan politiknya tersebut, Partai Demokrat mengklaim bahwa penurunan harga BBM yang sudah tiga kali dilakukan adalah hasil kinerja pemerintah pimpinan SBY. PDIP sendiri langsung menanggapinya melalui pidato Ketua Umumnya, Megawati Soekarnoputri yang saat ini belum mempunyai pendamping, mengisyaratkan bahwa pemerintahan SBY telah mempermainkan rakyat selayaknya bermain yoyo. Serangan PDIP terus berlanjut lewat kampanye iklan-iklan yang terus mencela kebijakan-kebijakan pemerintahan SBY yang telah dianggap salah. Sedangkan jawaban atas kritikan tersebut, presiden Susilo Bambang Yudhoyono membalasnya dengan pantun “…Mencari-cari kesalahan bukanlah sifat yang bijak,”. Perang kampanye PDIP versus Partai Demokrat tidak berhenti disitu saja. Iklan-iklan politik dari Partai Demokrat juga terus berkumandang di media-media masa negeri ini.
Saya sendiri agak risih dengan perang kampanye antara kedua partai tersebut. Ini baru dua partai yang saling serang melalui iklan, bagaimana jika sebagian besar peserta pemilu ikut-ikutan meramaikan iklan kampanye mereka dengan saling serang. Yang akan terjadi adalah media-media masa Indonesia isinya hanya akan ada hujatan, hinaan dan celaan. Walaupun itu semua dilakukan secara tersirat. Tidak sadarkah mereka yang saling hujat itu, bahwa mereka hanya akan mencontohkan pelajaran yang tidak baik bagi para calon penerus negeri ini. Dan yang lebih aneh lagi, ada partai yang pernah berkuasa dulu juga ikut mencela kinerja pemerintahan sekarang. Padahal waktu mereka berkuasa dulu juga tidak bisa dibilang berhasil melaksanakan pemerintahan dengan baik. Korupsi dan kemiskinan masih merajalela. Semoga para pemilih sekarang lebih dapat berpikir dan mawas diri dalam memilih calon pemimpin negeri di pilpres nanti.

